sebenarnya saya ga begitu paham masalah mobil, bahkan bisa di katakan tidak tau sama sekali, keinginan hati cuma ingin menikmati apa yang Allah anugrahkan melalui kemajuan teknologi yang sekarang cukup pesat dan sangat membanggakan.

faktanya ketika pejalan pulang dari kajian ahad pagi(majelisnya ust Abdullah Hadromi) dengan beberapa santri di rinjani, saya di palingkan perrhatiannya hanya menatap mobil yang baru saja mendahului kami dengan sangat gagah. kemudian perbincangan kami semua tiba-tiba tentang mobil yang terus membersamai kami hinngga pulang, seolah-olah terkawal dengan baik, terus menikmati dari belakang dan samping body sang mobil.

pandangan pertama begitu menggoda, saya katakan kepada santri “mobil ini gagah sekali, sepertinya pantes kalo saya pake”.. aduh langsung teringat surat al-mukmin :60.Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu pasti Aku perkenankan. Sesungguhnya orang-orang yang merasa sombong tidak mau untuk berdoa memuja Aku, kelak mereka akan masuk neraka Jahanam secara hina dina.

lantas berdoa :”ya Allah, sebagaimana Engkau anugrahkan kerajaan kepada sulaiman AS, maka anugrahkanlah kekayaan yang menentramkan dan semakin mendekatkan hamba kepada Mu, Ya Allah jadikan Fortuner dalam genggaman. yang warna putih ya Robb.amin”

sebagaimana perkataan ust Hasan al Banna “mimpi hari ini kenyataan esok” saya ingin sudah terealisasi pada 1 januari 2015. saat itu anak saya sudah 2 dan istri akan sangat membutuhkan kendaaraan yang nyaman.


1. Afiliasi : melalui komitmen akidah, metodologi dan akhlaqàmenjadi sholeh secara pribadi
2. Partisipasi : mendistribusikan kesalehan pribadi agar menjadi soleh socialàDi sinilah kita menjadi dai
3. Kontribusi : Kemampuan kita terbatas, sebagai contributor kita haruslah mengetahui di mana letak titik kekuatan kita. Empat bidang kontribusi:Bidang pemikiran, kepemimpinan, profesi, financialàDi sinilah kita menjadi mujahid

Tingkatan konsep diri
1.Aku-Diri : Aku seperti yang aku pahamiàpemahaman diri yang efeknya menenangkan karena kita memahami diri kita
2.Aku-Sosial : Aku seperti yang dipahami oleh orang lain yang ada disekitarkuàmemberikan rasa penerimaan, apakah kita diterima dalam kehidupan social atau tidak
3.Aku-Ideal : Aku yang aku inginkanàbagaimana kita menjadi benar

Umar mengatakan bahwa Anda hanya dapat mengetahui seseorang dengan tiga cara :
1. Jika Anda pernah berinteraksi soal uang dengan orang itu’
2. Jika Anda pernah bertetangga dengan orang itu
3. Jika Anda melakukan perjalanan dengan orang itu
Banyak orang yang beranggapan orang yang memiliki IQ tinggi pasti akan berhasil. Namun, ternyata faktor kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh intelegensinya tapi juga bakat dan minatnya. Jika seseorang tidak memiliki minat terhadap suatu pekerjaan, walaupun memiliki bakat dan intelegensi, dia tidak akan berhasil. Oleh sebab itu, penting sekali menumbuhkan minat agar memberikan motivasi kita untuk merealisasikan cita-cita. Kita harus mengoptimalkan akal kita untuk menyerap dan mengelola informasi sehingga dapat menghasilkan inovasi.
Dua Belas Kebiasaan Produktif yang Dianjurkan :
1. Sediakanlah lebih banyak waktu untuk membaca dan sediakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan dan mengendapkan bacaan.
2. Luangkan waktu selama 20 menit dalam sehari untuk menyendiri dan merenung
3. Pertahankan stamina spiritual melalui ibadah mahdhah yang rutin.
4. Jagalah kondisi fisik.
5. Tingkatkan apresiasi melalui seni dan alam
6. Buatlah rencana perjalanan wisata.
7. Luaskan wilayah pergaulan.
8. Tingkatkan control terhadap pikiran-pikiran yang memenuhi benak.
9. Biasakanlah mencatat gagasan secara teratur.
10. Biasakan lebih banyak diam dan mendengar daripada berbicara
11. Kontrol emosi agar tetap tenang; tidak mudah terpengaruh sanjungan dan kritikan
12. Lakukan latihan pernapasan secara teratur.
Menurut Anis Matta, masih dalam buku yang sama, bahwa orang yang sukses ialah orang yang memiliki kemauan kuat. Ia tak hanya memiliki otak cerdas atau impian yang luar biasa, namun kemauan untuk melakukannya. Itulah kunci. KEMAUAN. Juga disiplin yang tinggi.

Disampaikan SOLID1 UIN, 27 February 2010
SULTONI MUSLIM
Instruktur Nasional Kammi


MENTOR adalah :
orang yang melaksanakan proses tarbiyah dengan fokus kerjanya pada pembentukan pribadi muslim, sholih, muslih yang memperhatikan aspek pemeliharaan (ar-ria’ayah), pengembangan (at-tanmiah), dan pengarahan (at-taujih) serta pemberdayaan (at-tauzhif).

Alasan utama GAGALnya MENTORING…

Kurangnya waktu untuk melakukan persiapan Kurang nya
wawasan dan pengalaman Mentor
Kurangnya kesadaran membina mentoring secara kreatif
Kurangnya motifasi untuk membina secara serius (mentoring hanya sekedar jalan)
Kurangnya keberanian untuk melakukan sesuatu yang baru (INOVASI)

mudah-mudahan file berikut bermanfaat

ATM Kondom, solusi HIV/AID..?

Posted: Februari 15, 2011 in Uncategorized

Mencoba untuk berfikir sejenak.. sebenarnya apa yang ada di benak Bupati Malang Rendra Kresna dengan kebijakan pengadaan ATM kondom yang masih terbukti efektivitasnya. yang saya takutkan adalah niat ingin menekan pertumbuhan HIV/AID di malang malah menjadi media perantara terjadinya kerusakan dan impac social  lebih parah, sehingga berakibat buruk untuk penanganan hubungan bebas beresiko yang semakin tak terkendali.

Secara langsung atau tidak,  pengadaan ATM Kondom di indonesia sejak 2003 telah banyak memunculkan kontrofersi, pemerintah kabupaten malang harus melihat hal ini tidak hanya dari satu sisi manfaat, tapi juga menimbang apakah dampak permasalahannya malah lebih besar, alih-alih ingin memberantas HIV/AID, malah menimbulkan masalah baru yang lebih berat.

ATM Kondom yang pernah dulu dibangun oleh BKKBN dan sempet marak pada tahun 2008 merupakan sumbangan dari sebuah produsen kondom. Cara kerja alat ini mirip dengan sebuah telepon umum; setiap calon pembeli kondom diwajibkan untuk memasukkan tiga keping uang logam Rp 500,- untuk mendapatkan tiga kotak kondom dengan tiga jenis rasa. (Beritajakarta.com, 19/12/2005).

Apakah anda tau berapa ATM kondom yang akan di bangun di malang? Mau di tempatkan dimana saja ATM Kondom tersebut? Menjadi pertanyaan yang sangat penting, selain ATM Kondom ini menjadi solusi?. Mari kita kaji lebih jauh..

Di indonesia keberadaan kondom sendiri sudah jauh dari tujuan utama untuk apa kondom itu ada, pada awalnya keberadaan kondom digunakan sebagai alat mencegah kehamilan bagi pasangan suami  istri yang memprogram KB. Namun keberadaannya malah memicu timbulnya perilaku seks bebas pranikah (bebas zina), apa jadinya jika setiap kita memperoleh kondom dengan mudah, bagaiman apabila alat ini ada pada anda atau sesorang yang belum nikah? Seolah-olah ada pesan yang mau di sampaikan “ayo zina, ayo zina jangan lupa kondom,  sekrang udah aman, tidak perlu takut HIV/AID! Segera kunjungi ATM kondom terdekat”

Sebagian pakar kedokteran masih meragukan efektivitas kondom dalam mencegah HIV/AIDS. Alasannya, pori-pori karet lateks yang menjadi bahan pembuatan kondom adalah 0,003 mm, sedangkan ukuran virus AIDS adalah 0,000001 mm. Perbandingan keduanya adalah seperti pintu gerbang yang besar dengan seekor tikus. Logikanya, “tikus” dengan sangat mudah bisa mondar-mandir di “pintu gerbang” yang sangat besar itu tanpa halangan sedikit pun. Memang, konon bahan lateks untuk kondom dibuat lebih baik sehingga pori-porinya bisa lebih kecil daripada virus AIDS. Namun, dengan adanya tekanan saat dipakai, atau akibat gesekan, kondom tetap saja bisa kebobolan. Apalagi sejak awal kondom memang hanya efektif untuk mencegah masuknya sperma ke dalam rahim, dan belum terbukti efektif untuk mencegah berbagai penyakit kelamin, apalagi HIV/AID yang sampai saat ini belum diketahui serum untuk mengatasinya (evisyari.wordpress.com)

Pemerintah salah dalam mengambil konklusi dengan menggagas ATM kondom untuk solusi permasalah HIV/AID dan turunannya, yang sebenarnya adalah lebih pada penyimpangan prilaku, sehingga kajian ini mewajibkan kita menelaah kembali pesan agama dan tata nilai moral dalam masyarakat. Pemerintah harus memikirkan banyak alternatif solusi sebelum memutuskan sesuatu, setidaknya banyak hal yang bisa dilakukan baik itu berupa program penanggulangan atau pencegahan. Sekarang saya tanya, apa program pemerintah dalam hal ini BKKBN untuk bencana HIV/AID? Setau saya hanya bagi-bagi kondom gratis, kampanye gunakan kondom untuk hubungan yang aman (padahal tidak), ATM kondom agar mudah mendapatkan kondom. apakah anda tau selain itu?

Faktanya sampai sekarang ATM kondom di dunia barat belum mampu menekan perkembangan HIV/AID, meski program serupa sudah lama berlangsung, selain itu Akar penyebab penyebaran HIV/AID adalah seks bebas (pelacuran, gonta-ganti pasangan, pergaulan bebas, homoseksualitas/lesbianisme). Karena itu, perang terhadap seks bebas inilah yang seharusnya dilakukan Pemerintah, bukan dengan program “kondominasi” yang lebih banyak ditujukan kepada pasangan yang bukan suami-istri.

Bagi saya solusi yang paling tepat adalah perbaikan ekonomi masyarakat sehingga perang terhadap kemiskinan perlu di galakkan. Bersamaan dengan itu, kesejahteraan yang mulai terbentuk harus di imbangi dengan larangan membujang terutama bagi muda-mudinya dengan program nikah masal atau pembatasan umur menjomblo atau apalah yang penting di segerakan menikah, bahkan pemberian sanksi bagi yang terbukti dengan sengaja menunda-nunda, karena sesungguhnya hal ini adalah penyimpangan prilaku. Insyaallah tidak perlu lagi  ada ATM kondom di Malang.

Apakah anda tahu, berapa jumlah pengidap HIV/AID di Kabupaten Malang ? (the next)

Empat Skenario KAMMI Masa Depan

Posted: Februari 8, 2011 in Uncategorized

Sama halnya seperti sebuah pemukiman yang cenderung dinamis, KAMMI juga pasti akan mengalami perubahan orientasi seiring dengan perubahan yang ada. Perubahan orientasi ini tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap visi dan misi gerakan KAMMI sendiri.

Perubahan orientasi yang selama ini ada, menurut pengamatan penulis, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar, yaitu faktor eksternal di luar KAMMI dan faktor internal KAMMI sendiri. Faktor eksternal ini lebih dipengaruhi oleh tumbuh dan berkembangnya gerakan-gerakan yang ada di Indonesia, baik gerakan berbasis keagamaan, seperti Jama’ah Tabligh, Salafi, Hizbut Tahir, etc, maupun gerakan berbasis sosial politik seperti GMNI, PRD, HMI, PMII, etc. Mulai bangkitnya gerakan-gerakan tersebut mau tidak mau menjadi tantangan tersendiri bagi KAMMI. KAMMI pun sudah selayaknya siap bersaing dalam menjajakan produknya agar tidak kalah di pasaran. Rebutan kader, bahkan kekurangan akan terjadi manakala kemasan atau mutu tidak menarik. Suatu hal yang nonsense jika kader akan datang dengan sendirinya tanpa adanya usaha memunculkan faktor penarik (pull factors) bagi mereka. Berani tampil beda bukanlah hal yang diharamkan tentunya dalam menampilkan kemasan.

Masalah krusial internal yang tampaknya menghambat kinerja juga adalah perubahan orientasi yang ada di tubuh kader sendiri, yaitu faktor “m” dan faktor “n”. Faktor “m” adalah perubahan orientasi untuk segera cepat lulus dan mencari maisyah. Tidak ada yang salah terhadap faktor ini walaupun pergeseran orientasi ini kalau boleh dibilang mengganggu juga terhadap kinerja orientasi. Hal yang sepele (kalau Anda memperhatikan) adalah sering menghilangnya kader secara tidak jelas karena tuntutan kerja dan uang, sehingga kerja tidak maksimal bahkan rapat tidak efektif. Terakhir faktor “n” adalah kecendrungan hati nurani untuk melaksanakan setengah din, yaitu nikah cepat. Mungkin, hal tersebut konsekuensi dari perubahan mihwar kali ya?

Ada empat skenario yang penulis kira akan menjadi cerminan gerakan KAMMI di masa yang akan datang. Skenario pertama adalah Pohon Tumbang. Pada skenario ini, KAMMI masa depan bak tanaman yang terus tumbuh dari tunas hingga menjadi sebuah pohon yang kokoh, namun tidak terawat. Pohon tersebut tumbang karena tidak mendapatkan subsidi makanan dari zat-zat hara. Daun-daunnya mulai layu dan akar-akarnya pun kering karena kekurangan air. Boleh jadi, pada amsa yang akan datang akan terjadi pergeseran nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi oleh KAMMI. Nilai-nilai universal (baca: Islam) akan dapat luntur manakala tidak adanya penjagaan dan pengawasan yang optimal dari berbagai pihak. Pergeseran tersebut dapat saja tercermin pada akhlaq kader-kader KAMMI yang mulai kehilangan orientasi hidup.

Skenario kedua adalah Menepuk Sebelah Tangan. Ide awal pendirian KAMMI yang bervisi melahirkan kepemimpinan masa depan bangsa yang tangguh dan membentuk masyarakat madani memaksa KAMMI unuk merekrut kader sebanyak-banyaknya. Kuantitas sangat diperhatikan, namun kualitas masih diragukan (?). kendala utama yang selama ini belum terpecahkan oleh KAMMI adalah bagaimana KAMMI menghasilkan kader yang brilliant dan berkualitas? Dari segi perekrutan, tampaknya KAMMI lebih unggul satu angka dibandingkan teman-teman gerakan lain. Meskipun begitu, penulis tidak berani mengatakan kalau sistem pengkaderan KAMMI adalah lebih baik. Masih banyak yang harus dibenahi, terutama dalam hal up grade kualitas agar kader tumbuh menjadi sosok yang professional dalam berkarya.

Skenario ketiga, Naik Tangga. KAMMI masa depan diharapkan dapat menjadi lebih baik, bahkan organisasi yang siap bertarung dalam dunia pergerakan mahasiswa dan melakukan gebrakan terhadap kondisi sosial dan perpolitikan bangsa. Pada skenario ini KAMMI akan sangat terlihat lamban (seperti halnya orang naik tangga). Hal yang terasa adalah capek dan berkeringat.

Skenario empat, Puing Runtuh Bangunan. Ketakutan akan runtuhnya sebuah rumah tempat kembali yang telah dibangun kokoh akibat gempa yang melanda. Tuntutan zaman (mungkin juga orang tua) yang menghendaki organisasi dapat survive dengan kondisi yang ada mengharuskan aktivis KAMMI lulus cepat. Maka, mencari maisyah adalah tujuan utamanya. Selain itu, tuntutan hati nurani yang menghendaki nikah cepat pun kadang menjadi suatu keniscayaan.

Menuju Gerakan Politik Populis

Spekulasi post factum tersebut, yaitu empat skenario besar KAMMI ke depan boleh jadi akan terjadi sungguhan manakala tidak ditopang oleh akar yang kuat. Kegagalan demi kegagalan akan tampak di depan mata manakala tidak segera ditanggulangi. Ada beberapa penghalang yang dapat menyebabkan terhambatnya proses keberhasilan gerakan KAMMI. Pertama, system. Sistem yang sudah ada memang relatif baik, saya kira. Namun, ia seharusnya fleksibel mengikuti perubahan zaman. Kekakuan dan konvensionalnya kemasan akan menjadi penghalang besar untuk melakukan perubahan.

Kedua, perangkat. Kekurangprofesionalan pengurus dalam menjalankan roda organisasi bisa berakibat fatal bagi kesehatan organisasi itu sendiri. Perlu ada aturan main yang tegas sehingga dapat mengikat pelaku kegiatan di dalamnya agar tidak lari. Aturan ini bisa berlaku bagi siapa saja, baik aturan bagi mereka yang sudah nikah atawa belum. Cenderung tabu mungkin bagi kader yang sudah menikah untuk terus melanjutkan aktivitasnya di KAMMI. Padahal, tidak ada aturan yang melarangnya.

Terakhir, kader. Tingkat kesadaran kader dalam memahami dinamisasi gerakan KAMMI cenderung kurang. Banyak diantaranya yang ogah-ogahan untuk membangun rumah tempat kembali tersebut. Walhasil, tidak ada beban dalam dirinya untuk mengusung nama besar KAMMI. Sayangnya, rasa das Wirgefhl* hanya dimiliki oleh sebagian orang saja.

Thus, sudah saatnya bagi KAMMI untuk melakukan pembenahan diri. Politik lama yang selama ini dianut, yaitu gotong royong Mao Ze Dong yang akan menjebak KAMMI pada gerakan konvensional dan tradisional sudah saatnya untuk diubah. Politik ekslusifisme dan elitis KAMMI harusnya diarahkan kepada politik inklusifisme dan bottom up policy sehingga menjadi suatu politik yang bersifat open society. Menurut Amien Rais, politik populis akan mempermudah keberhasilan dalam membangun identitas dan charisma. Politik populis adalah politik rakyat walalupun sering gagal dalam mengemban manajemen politik yang efisien dan efektif. Untuk itulah, ia harus berpasangan dengan politik rasional agar tidak terjebak dalam janji-janji semu belaka (Kompas, 1 Januari 2000).

Ketidakpastian gerakan KAMMI yang ada sekarang cenderung membuat bingung kemana hendak melangkah. Jangan heran saja jikalau ada celutukan, “Sebenarnya KAMMI itu orientasi jelasnya apa dan mau dibawa kemana?” Boleh jadi apa yang digariskan oleh sejarah masa lampau oleh para proklamator KAMMI tidak cocok dengan kondisi sekarang. Toh juga, sejarah itu bukanlah linear, bukan siklis melainkan berayun bagai pendulum. Sejarah juga ibarat orang mabuk, yang bisa terhuyung ke kanan dan ke kiri.

Bukan suatu hal yang utopia, saya kira, jika ada cita-cita besar untuk memperbaiki bahkan membentuk umat ini menjadi rahmatan lil’alamin. Utopia sendiri merupakan sejarah berupa pemburuan terhadap “lebih” dibandingkan dengan kondisi yang sedang kita hadapi. Tidak ada kata akhir pada pencaharian apa yang “terbentuk”.

Sudah saatnya bagi KAMMI untuk bangkit dengan kekhasannya: populis dan inklusif. Ideologisasi gerakan KAMMI harusnya terpancar dalam setiap langkah aktivitasnya. Kekhasan adalah satu ahal yang berbeda, tidak mengadopsi ataupun imitate terhadap suatu hal yang lain. Peluang terhadap suatu kemungkinan adalah 50%. Sama halnya dengan kebangkitan rezim kanan pada tahun 1960 dan 1970-an yaitu Thatcher dan Reagen, sedangkan pada tahun 1990-an muncul rezim kiri yaitu kebangkitan demokrasi sosial.

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang sekiranya bisa menjadi renungan. Pertama, redefenisi visi. KAMMI ke depan seharusnya memiliki politik dengan visi. Tanpa visi, politik ibarat makelar berdasi yang berebut uang komisi dan lokasi. Politik gerakan KAMMI juga tidak harus membebek pada histeria pasar. Kedua, kultural politik. Ada dua hal yang bisa dilakukan, yaitu membangun public podium dan partnership (kerja sama) dengan pihak lain. Mengutip perkataan Hasan Al-Bana, “Bekerja sama dalam hal yang disepakati dan saling toleransi dalam hal yang berbeda”, akan lebih baik bagi pembentukan jaringan dan gerakan KAMMI ke depan. Ketiga, reformasi radikal. Jangan takut untuk melakukan perubahan kalaulah itu yang terbaik.

At last, ada sebuah mutiara indah: in matters of style, swim with the current. In matters of principle, stand like a rock.

anonim….

 


Segala yang terjadi, dimulai dengan khayalan. Segala yang kita capai, dimulai dengan angan-angan di pikiran. Tidak ada batas bagi imajinasi. Khalayan kita tidak bisa dibatasi realitas fisik, kesulitan keuangan, rasa takut, penolakan, dan apa saja. Bayangkanlah masa depan, dan biarkan diri kita melaju dengannya. Tinggalkan segala kendala dan tampilkan apa yang ingin kita jalankan. Sesuatu yang kita inginkan akan dimulai dari tangan-tangan kita sendiri. Ciptakanlah angan-angan terbaik dan mulai bertindak untuk mewujudkannya.

Membincangkan angan-angan, KAMMI juga punya impian besar. Saat ini, Muslim Negarawan menjadi sebuah wacana yang termasuk dalam box office papan atas di kalangan internal KAMMI. Mulai dari pusat, KAMMI Daerah, hingga Komisariat pernah mendengar wacana mengenai Muslim Negarawan. Meskipun sayup-sayup, wacana ini telah sampai juga dan akan menjadi topik hangat dalam beberapa waktu ke depan. Topik ini dianggap menjadi konsep ideal bagi seorang kader KAMMI, sehingga topik lain pun pembicaraannya tidak jauh dari topik Muslim Negarawan. Mungkin saat ini hanya teori saja. Namun, dari sekadar wacana yang bersifat teori, diharapkan Muslim Negarawan dapat diapliaksikan pada diri setiap kader. Pertanyaannya adalah kapan?

Jika menilik kembali filosofi gerakan yang dimiliki KAMMI, sangat relevan dan memungkinkan jika seorang Muslim Negarawanlah yang akan mewujudkan filosofi tersebut. Maka Muslim Negarawan tidak hanya menjadi solusi atas kemerosotan moral di berbagai bidang, tetapi juga dapat dijadikan sebagai konsep untuk melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa masa depan. Muslim Negarawan jelas merupakan model yang ideal sebagai karakter seorang pemimpin masa depan. Sekali lagi kapankah hal itu akan terwujud? Atau siapkah kita mewujudkannya?

Sepertinya kita perlu merenungi sebuah kisah orang Arab di sebuah negri. Suatu ketika sang Arab ini hendak pergi ke tempat saudaranya yang letaknya amat jauh. Dia bukanlah orang yang berpunya bahkan untuk biaya transportasi saja. Akhirnya dia putuskan untuk berjalan saja. Berminggu-minggu dia habiskan diperjalanan. Mendaki bukit, menuruni lembah bersama panasnya gurun kala siang dan kejamnya dingin kala malam. Dengan kaki yang melepuh dan tubuh yang lunglai akhirnya dia pun sampai pada temannya. Rasa heran pun langsung terlintas di raut wajah temannya. Dia pun menanyakan bagaimana si Arab ini bisa sampai dengan berjalan kaki. Si orang Arab memberinya jawaban sederhana “Aku memulainya.”

Sudah saatnya KAMMI memualainya, sudah waktunya nilai-nilai Muslim Negrawawan terinjeksi ke dalam jiwa setiap kader KAMMI. Bukan saatnya lagi untuk berwacana, sudah saatnya untuk menjadi seperti orang arab tersebut dan menuju pemimpin peradaban masa depan. Tetaplah bergerak maju sekalipun lambat karena dalam pergerakan kita, kita menciptakan kemajuan. Bukankah lebih baik bergerak maju, sekalipun pelan daripada tidak bergerak sama sekali. Satu langkah kecil demi satu langkah kecil asalkan tidak berhenti adalah cukup, karena kita masih memiliki hari esok dan masih ingin bergerak maju dan bukan berhenti. InsyaAllah akan ada nilai-nilai Musim Negarawan pada diri seorang pemimpin kita ataupun kita memiliki pemimpin yang berjiwa Muslim Negarawan.

Hal inilah yang akan menjadi sebuah gerakan masa depan bagi KAMMI. Memfokuskan diri pada tujuan sebenarnya adalah lebih penting dan lebih efisien dalam mencapainya. Untuk mencapai cita-cita besar KAMMI yang tertuang dalam sebuah visi besar diperlukan sebuah gerakan yang mengarah kepada hal tersebut. Sebuah gerakan yang memfokuskan diri dalam pencapaiannya. Sebuah gerakan yang tidak akan pernah berakhir dalam mencetak seorang insan Muslim Negarawan sebagai benih dan akan menjadi karakter dari seorang pemimpin peradaban masa depan.

Secara terperinci, model gerakan KAMMI yang diharapkan di masa depan adalah gerakan yang lebih bertumpu pada kaderisasi. Gerakan bagaimana menanamkan nilai-nilai Muslim Negarawan kepada setiap kader. Gerakan yang akan menempatkan kader pada lini-lini strategis. Gerakan yang bertujuan akhir memiliki pemimpin berjiwa Muslim Negarawan di lini-lini strategis tersebut.

Jika kita telaah bersama. Terdapat kesesuaian antara filosofi sebuah gerakan KAMMI dan grand design tentang siapa Muslim Negarawan. Hal yang diharapkan adalah bagaimana sebuah misi dijadikan patokan dalam bertindak untuk mencapai sebuah grand design Muslim Negarawan yang diinginkan. Adapun unsur-unsur dalam Muslim Negarawan yang menjadi tujuan diantaranya adalah Memiliki Basis Ideologi Islam yang Mengakar, hal yang perlu ditanamkan secara mendalam tentu saja aqidah. Dengan aqidah yang lurus maka akan terbentuk kepahaman bahwa Islam adalah jalan hidup kita. Selain itu aqidah juga merupakan pondasi bagi amalan-amalan diatasnya. Namun, saat ini tidak cukup jika kita mengandalkan MK (Madrasah KAMMI) saja karena selama ini hal ini kurang berjalan dengan baik. Belum lagi intensitas kajian aqidah yang kurang dan rendahnya minat kader sendiri untuk mendatanginya. Oleh karena itu butuh suatu pembelajaran yang berkualitas dan yang terpenting adalah rutinitas secara konstan bagi kader KAMMI. Bukankah ini juga sesuai dengan misi KAMMI yang pertama.

Memiliki Basis Pengetahuan dan Pemikiran yang Mapan, perlu adanya sebuah gerakan cinta buku dan diskusi dalam diri KAMMI. Hendaknya kader tidak hanya mempelajari agama saja atau sebaliknya wacana-wacana saja yang cenderung kekirian. Buku-buku keislaman harus diwajubkan bagi setiap kader dan perbanyak forum diskusi sehingga akan terbentuk kader yang mempunyai pengetahuan luas, pemikiran kritis, namun masih alam koridor Islam. Dan sebenarnya hal ini sudah tercantum dalam misi kedua, yaitu menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan poltik mahasiswa.

 

Unsur ketiga adalah Idealis dan Konsisten. Idealis dalam hal ini adalah meletakkan Islam sebagai solusi semua permasalahan. Seorang kader KAMMI memang dituntut untuk idealis. Selain itu kader KAMMI juga dituntut untuk bergerak dinamis, yang dapat huga berarti konsisten dalam menjaga keidealismeannya. Bukankah KAMMi juga memilki jargon “KAMMI bergerak taktis, dinamis, strategis mendobrak pola pikir apatis.” Suatu jargon yang keberadaannya mulai dilupakan. Tidak bisa tidak, idealisme harus betul-betul ditanamkan pada setiap kader dan jangan lupa, harus berjalan secara konsisten walaupun perlahan.

 

Berbicara mengenai apatis, seorang Muslim Negarawan juga dituntut untuk memiliki unsur keempat, yaitu Berkotribusi pada Pemecahan Permasalahan Umat dan Bangsa. Bagi kader yang memahami betul misi KAMMI yang ketiga akan ada sebuah kecocokan disini. Seorang kader dituntut untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan, bukan bagian dari permasalahan itu sendiri. Dengan kontribusi yang mencerahkan bukan tidak mungkin akan tercipta misi yang ketiga. Sudah selayaknyalah manusia KAMMI dididik mulai dini untuk dapat berkontribusi ditengah masyarakat.

 

Menjadi Perekat Komponen Bangsa sebagai Upaya Perbaikan. Inilah yang diingkan misi KAMMI yang keempat. Terjalin dan terpeliharanya sebuah komunikasi, solidaritas, dan kerjasama yang baik dengan masyarakat dalam upaya menyelesikan masalahnya. Dengan demikian akan terbentuk sebuah perekat yang kuat antara KAMMI dan masyarakat.

 

Inilah sebuah gerakan yang diharapkan. Gerakan membentuk kader sebagai seorang Muslim Negarawan dengan mengoptimalkan sebuah filosofi berupa misi-misi yang telah ada. Dengan pelaksanana misi yang cerdas maka kita tidak akan melihat sebuah visi yang hanya digagas.

artile DM2 KAMMI

 


“Siapapun anda ketika terbangun di pagi hari hal pertama yang harus anda lakukan adalah berlari sekencang-kencangnya” begitulah naseha singa dan rusa pada saya. Kehidupan pada umumnya hanya mengenal 2 istilah : makan atau di makan. Begitu rusa lalai maka ia menjadi makanan singa, jika singa tidak mampu lari kencang dari rusa yang paling belakang maka ia tidak makan. Kebiasaan telah membentuk kehidupan mereka, suka atau tidak mereka harus terbiasa bangun dan lari…

banyak sekali sesuatu dalam hidup ini, karena kita tidak biasa dengannya menjadikan kita tidak suka terhadapnya.. benerkan? kalo jawabannya bukan. Tidak mungkin ada ungkapan seheboh ini “ trisno jalaran soko kulino” yang artinya cinta karena sudah terbiasa.. atau dalam celotehannya kang Taufan Rahmatullah yang sangat mashur “makin sering bertemu..makin ku rindu..makin ku cinta” lah kok malah ngomongin cinta.. he3.

Sahabat semua. Saya Cuma ingin mengatakan sipapun anda, kita harus terbiasa dengan kebaikan-kebaikan. Kerena kebaikan-kebaikan yang kita lakukan merupakan magnet yang menjadi penyebab kesuksesan yang hakiki dalam kehidupan, cepat atau lambat.

Berbicara tentang amal kebaikan atau kebiasaan baik, tentunya buayak sekali… sama banyaknya dengan butir pasir di lautan. Bahkan dari bangun tidur hingga tidur kembali jika kita bersungguh sungguh melakukannya tidak akan mampu menggapai asa. Percanya dah…,

Semua kebaikan yang kita lakukan pada awalnya mungkin akan tersa sangat berat dan membutuhkan waktu, namun semuanya akan menjadi membiasa jika kita melakukannya secara terus menerus hingga pada suatu saat kita berada dalam kondisi tidak terbiasa jika tidak melakukannya atau dalam bahasa lain tidak suka.. hukum membiasa ini terjadi pada semua aktifitas kita –baik atau buruk.

Saya masih ingat nasehat yang sangat bagus “ pada awalnya kita membentuk kebiasaan-kebiaasan, kemudian kebiasaan-kebiasaan membentuk kita” sehingga saya mulai memahami setiap orang sukses di sekitar kita memiliki kebiasaan-kebiasaan sukses yang membentuk dirinya menjadi pribadi besar. Diawali dari benarnya ia memahami sesuatu, kemudian cara ia berfikir, lantas mengambil sikap, hingga menetapkannya menjadi sebuah kebiasaan yang akan membentuk karekter hidupnya.

Sebagaimana syair nasyid ini:

GG@%$%*&*(^(((&)&*@$^

%$#%*&^&)(&%^#^$*$@%$#&%(**_+++++

+)()&%#@%$#^*_)%%*%*%*%*%*%*

Mungkin menjadi hal yang sangat sulit. Ketika anda bertanya bagaimana melakukan kebaikan-keb aikan, dan menjadikannya bekerja memperbaiki kehidupan kita ? nasehat yang sangat bijak di sampaikan oleh aa Gym “ jika anda ingin merubah hidup anda dengan kebaikan, maka ingatlah rumus 3M, yaitu : mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal kecil, mulailah sekarang juga”

Sekarang apa kebiasaan anda? Dan apa yang akan anda biasakan? Akan menentukan siapa anda kemudian.. maka berhati-hatilah menentukan kebiasaan-kebiasaan hidup.!

 

JANGAN TAKUT GAGAL (part1)

Posted: Februari 7, 2011 in Uncategorized

Sejak saya menulis judul ” jangan takut gagal” membutuhkan waktu yang sangat lama bagi saya untuk sekeder memberanikan diri menulis apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan yang saya jalani selama ini dan sebagian besar di jalani dengan rasa takut. takut jika nanti tulisan ini tidak bagus, takut jika tulisan ini tidak bermanfaat, takut jika apa yang saya critakan kepada anda tidak mampu menjadi inspirasi.

oke,, rasa takut seakan-akan telah menjadi penyakit, menjadikan kehidupan yang saya jalani  gelap dan sakit. apa yang saya rencanakan, apa yang saya lakukan, apa yang saya inginkan tiba-tiba menjadi hal yang fana dan tidak mungkin. sungguh kehidupan nampak suram bagi seorang penakut. hal itu telah menjadi musibah terbesar bagi saya. seolah-olah kehidupan ini telah berakhir. saya sadar bahwa kehidupan ini tidak bisa di jalani dengan rasa takut saya harus berubah jika ingin sukses, saya tidak bisa selamanya begini di selimuti rasa takut yang kadang datang tidak memiliki alasan logis untuk di takuti.. aneh memang.

Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. dan saya di nobatkan sebagai manusia dengan watak melankolis, yang salah satu wataknya adalah perfeksionis, pemikir, dan selalu murung..  saya tidak nyaman jika melihat tatanan buku yang tidak rapi, rumah yang semrawut. bahkan butuh waktu yang sangat lama untuk merencanakan sesuatu, padahal jika di kerjakan langsung juga bagus hasilnya. rasa takut telah menambah daftar pekerjaan tidak terselesaikan bagi orang melankolis, yang akhirnya berujung pada kondisi stres yang sangat. mungkin nasehat ini tepat untuk saya, mampu menyegerakan sesuatu tanpa terlalu lama memikirkan dampaknya : Tidak perlu menjadi sempurna untuk bahagia.. Jadilah lebih baik dan bermanfaat it lebih sempurna..

ketika John Maxwell menasehati saya dalam salah satu bukunya “jika anda ingin bahagia perbanyaklah masalah” saya sangat tertarik dengan kata-kata ini, seolah bertolak belakang dengan apa yang saya alami dalam imajinasi kehidupan, lantas beratanya kenapa? kenapa harus banyak masalah (bc gagal) jika ingin bahagia? karena masalah itu tidak selamanya buruk dan kita membutuhkannya jika tidak ingin menjadi pecundang. saya semakin mengerti dalam analogi : semakin besar pohon kebahagiaan semakin kencang anginnya (masalah) “Kita tidak tahu bagaimana hari esok, yg bisa kita lakukan adalah berbuat sebaik-sebaiknya dan berbahagia hari ini..” masalah bukan pertanda bahwa apa yang kita lakukan gagal, tapi itu adalah pengajaran bagi kita bahwa yang kita lakukan belum benar, sehingga kita jadi mengerti dan mendapat banyak pengajaran bagaimana seharusnya sesuatu itu di kerjakan.

saya mulai sadar apa jadinya jika saya sukses, saya bahagia tanpa sebuah perjuangan, sepertinya tidak menarik, bahkan kesenangan itu bisa jadi terasa hambar. beda rasanya jika kita memperolah nilai ‘A’ dengan perjuangan belajar selama seminggu dengan yang memperolehnya bergitu saja atau bahkan dengan cara tercela -menyontek. rasanya nasehat ini cocok untuk saya : Kebanggaan kita yg terbesar bukan karena tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kita jatuh <confusius> 

Baca entri selengkapnya »

Hello world!

Posted: Januari 23, 2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!